Bismillah Cinta

Bila langit telah merestui, di mana pun ia berada pasti akan kembali, Saat itu senja luruh tanpa pelangi, hingga jingga datang menyapa.

Cinta adalah air yang mengalir untuk menyegarkan bukan untuk menghanyutkan apalagi menenggelamkan. 

Cinta adalah matahari yang akan terus menyinari hati, menghidupkan dan mengilhami.

Nyatanya ada takdir pertemuan yang telah dituliskan oleh Sang Maha Semesta, tepat di persimpangan jalan aku berjumpa dengan sosok yang pernah ku kenal sepintas kala itu, saat kuliah dulu.

Sejenak kendaraan  kami sama-sama dihentikan, dan masing-masing dari kami turun dari kendaraan, seketika ada hening yang menyelimuti rongga dada kami, sembari ada semburat  kaget tersirat dari wajah kami masing-masing, karena sangat diluar dugaan hari ini kami dipertemukan takdir kembali setelah perkenalan yang tak sengaja di kampus dulu saat ada kajian keislaman di kampus, dia menyapaku terlebih dulu.

" Assalamu'alaikum, kamu Sarah ya?, (sapanya),

" Waalaikum Salam, iya aku Sarah", dan ini dengan Mas Fahmi kan?,

" Iya saya Mas Fahmi, masyaalloh... Sarah masih inget ya dengan Mas Fahmi, padahal waktu kita kenalan dulu udah lama banget ya, kira 5 tahun yang lalu, saat kita masih disemester 3, dan saat itu kita sama-akan akan mengikuti kegiatan Kajian KeIslaman di Kampus yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Tarbiyah, dengan Tema " Al-Qur'an dan Literasi ",

"Masyaalloh... Mas Fahmi kereeen banget sih, masih inget semuanya, dan mas Fahmi dapet door price kan di akhir acaranya".

" Eeeh sarah masih inget juga toh ",

" Iya lah masih inget he he ",

" Ngomong-ngomong Sarah mau ke mana ?,

" Oh... sarah mau ke rumahnya dr. Ade Hermawan, mau nganterin surat undangan untuk jadi narasumber diacara Sekolah Ramadhan ",

" Oh gitu ya, eeh boleh minta nomer hp sarah ga?,

" Oh iya, boleh ".

Waktu terus berlalu dan hari pun terus berganti, setelah pertemuan tak disengaja itu, Fahmi sering berkirim kabar dengan Sarah, apalagi setelah pertemuan itu,

Fahmi merasa ada rasa yang tak biasa mengalir deras menyusuri rongga jiwanya, ada senandung rindu yang mengalun syahdu menysuri kalbunya, kini hatinya telah tertawan oleh seorang hamba Allah bernama sarah, hingga dalam kelamnya malam ia bersimpuh malu, memohon kepada Sang Maha Kasih yang senantiasa menggengam jiwanya, agar dia pertemukan dengan seorang belahan jiwanya yang sama-sama untuk dapat merajut mimpi dan merenda asa bersama sampai ke Jannah-Nya.

Semilir angin membawa wangi bunga, hingga sinar senja melukis mega di semesta, Senja itu, Fahmi memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati walau semuanya masih teka-teki, namun ia sudah bertekad apa pun yang terjadi, ia sudah siap dengan segala konsekunsinya, ia berserta Abinya datang bersilaturahmi, untuk bertaa'ruf ke rumah Sarah dengan maksud untuk langsung mengungkapkan kegundahan dan keseriusan hatinya kepada Sarah, sekaligus meminta restu kepada orang tuanya Sarah.

Restu langit, nampaknya sudah digenggaman Fahmi, semuanya berjalan sesuai harapannya, Sarah menerimanya sebagai calon Imamnya, pun gayung bersambut, orang tua sarah pun telah merestuinya. Tanpa sengaja tatapan mata Fahmi tepat beradu dengan bening bola mata Sarah, Subhanalloh...deg rasanya...ada rasa mengalir deras mengalir menukik menghunjam relung hati, hingga serasa bergetar seluruh sendi di nadiku, nyatanya Sarah pun merasakan hal yang sama, akhirnya ia menundukan pandangannya, dari tatapan fahmi, yang tulus dan menyimpan keteduhan yang teramat dalam.

Dalam perbincangan saat itu, akhirnya disepakati bahwa 1 bulan lagi setelah pertemuan itu mereka akan melangsungkan ikatan suci ke jenjing pernikahan.

Kedua belah pihak mulai menyiapkan segala sesuatunya agar acara sakral itu berjalan sesuai dengan konsep yang dirancang bersama.

Satu pekan sebelum acara sacral itu dilangsungkan, ternyata ada persitiwa yang hampir saja memporakporandakan dermaga cinta suci mereka. Pagi itu dirumah Sarah ada seorang pemuda yang datang khusus untuk menemuinya, dan hal ini membuat hati Sarah diselimuti keresahan. Dan pemuda itu adalah Amar, seseorang yang begitu lama namanya pernah menepi direlung hatinya, namun akhirnya harus berpisah karena kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka, padahal Sarah tahu benar bahwa Amar masih menyimpan perasaan yang teramat dalam padanya, pun sebaliknya, namun Sarah memilih untuk mengakhirinya karena dia tidak ingin menjalin hubungan tanpa restu orang tua. Saat Sarah masih gundah, tiba-tiba Amar menyapanya.

" Assalamu'alaikum Sarah ",

" Waalaikum'salam, Mas Amar ".

" Sarah, tolong dengar Mas Amar baik-baik, Sarah masih masih mencintai mas Amar kan?, tolong pertimbangkan lagi kalau Sarah mau menikah dengan Fahmi ".

Sejenak Sarah terdiam, ingatannya sempat terbawa kenangan indah masa silam dengan Fahmi, namun dia sadar, itu hanyalah cerita yang sudah usai, maka Sarah pun menjawab.

" Mas Fahmi, maaf sekali cerita kita usai, dan 1 pekan lagi Sarah akan menikah, Sarah hanya bisa mendoakan semoga mas Amar segera dipertemukan dengan seorang bidadari yang sholehah.

Terlihat raut kekecewaan menggelayut diwajahnya Amar, akhirnya dia pun berpamitan, sembari mendoakan Semoga Sarah bahagia dengan pilihan hatinya.

Hari yang telah ditentukan tiba, langit cerah dan ada sejumput awan yang ikut tersenyum begitu menawan, hari itu adalah hari yang sakral bagi Fahmi dan Sarah, mereka berdua mengikatkan janji suci dan hanya mengharap ridho Illahi, hingga kelak biduk perahu layar mereka yang akan menghantarkannya sampai ke Jannah-Nya.

Komentar

Postingan Populer